Suspect Positif Corona pertama di Indonesia di ketahui ketika Presiden Jokowi mengumumkan pada tanggal 2 Maret 2020. Pandemi Virus Corona tersebut di dapat ketika warga negara Jepang melakukan perjalanan ke Indonesia dan melakukan kontak langsung dengan Pasien 1 dan lalu menjangkit ke Pasien 2.

Pergerakan Pandemi Virus Corona di rasa cukup cepat, dimana per tanggal 18 Maret 2020, terdapat 227 positif Suspect Corona, dimana 19 orang dinyatakan meninggal dunia dan 11 orang lainnya dinyatakan sembuh.

Berbagai rencana kebijakan dan anjuran sudah mulai di lakukan oleh pemerintah untuk mengurangi penyebaran Pandemi Virus Corona yang lebih masif, semisal anjuran bekerja dirumah (WFH) yang sudah banyak di terapkan oleh perusahaan-perusahaan, yang sesunggunya di manfaatkan rekreasi oleh sebagian orang. Ada juga kebijakan belajar di rumah (SFH) yang pastinya di manfaatkan oleh sebagian siswa dan siswi untuk bermalas-malasan di rumah dan juga nongkrong-nongkrong ganteng ngomongin gebetetan yang lagi di deketin. Adapun pembatasan operasional transportasi publik yang dilakukan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bertujuan untuk Social Distancing yang pada kenyataan nya, kebijakan ini adalah kebijakan yang berlawanan dengan tujuan Social Distancing.

Istilah baru banyak bertebaran setelah merebak nya Pandemi Virus Corona ini. Mari kita belah lebih dalam (tapi singkat aja biar pada ga males baca nya) mengenai istilah-istilah baru ini.

  • Lockdown

Lockdown diambil dari bahasa Inggris, artinya adalah terkunci. Jika dikaitkan dalam istilah teknis dalam kasus Corona atau COVID-19, arti lockdown adalah mengunci seluruh akses masuk maupun keluar dari suatu daerah maupun negara.

Tujuan mengunci suatu wilayah ini agar virus tidak menyebar lebih jauh lagi. Jika suatu daerah dikunci atau di-lockdown, maka semua fasilitas publik harus ditutup. Mulai dari sekolah, transportasi umum, tempat umum, perkantoran, bahkan pabrik harus ditutup dan tidak diperkenankan beraktivitas. Aktivitas warganya pun dibatasi. Bahkan ada negara yang memberlakukan jam malam.

Kebijakan Lockdown ini terbukti ampuh ketika di terapkan di Wuhan. Dimana ada penurunan jumlah pasien yang terjangkit Pandemi Virus Corona secara signifikan di Wuhan.

Tapi sayang nya, pemerintah belum berani untuk mengambil tindakan ini. Menurut pernyataan Jubir Presiden, Fadjroel yang di kutip dari CNN Indonesia (18/3) “Publik tak memerlukan kebijakan ‘efek kejut’ tapi kebijakan rasional dan terukur yang memadukan kepemimpinan organisasi, operasional, dan informasi terpusat sebagaimana yang ditunjukkan Presiden Joko Widodo sebagai panglima perang melawan pandemi covid-19.”

  • Social Distancing

Istilah teknis seputar virus Corona selanjutnya adalah Social Distancing. Dikutip dari The Atlantic, istilah ini merujuk pada tujuan untuk mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang lain dalam jarak dekat. Social distancing juga bertujuan untuk mengurangi penularan virus dari orang ke orang.

Sementara istilah social distancing menurut Center for Disease Control (CDC) adalah menjauhi segala bentuk perkumpulan, menjaga jarak dengan manusia, dan menghindari berbagai pertemuan yang melibatkan banyak orang.

  • Work From Home (WFH) & Study From Home (SFH)

Dari Bahasa nya pasti udah tau lah yang WFH dan SFH itu sendiri apa. Tapi pada kenyataan nya itu berarti bisa bangun siang, bisa nongkrong, nggk ketemu bos, nggk ada deadline kerjaan, nggk ketemu guru, nggk ada tugas dan yang pasti nggk harus desek-desekan naik kereta ataupun transportasi publik lain nya.

  • Pandemi

Nah pasti pada asing dengan istilah pandemi sendiri. Pandemi adalah kelanjutan dari Epidemi, dimana Epidemi merujuk pada penyebaran penyakit secara cepat dengan jumlah yang terjangkit banyak pada suatu wilayah.

Sedangkan Pandemi adalah penyebaran penyakit secara cepat dengan jumlah yang terjangkit sangat banyak namun hal ini menjangkit bukan hanya suatu wilayah, tapi juga menjangkit ke seluruh bagian dunia, seperti Pandemi Virus Corona yang terjadi saat ini.

  • ODP, PDP & Suspect Covid-19

Tiga istilah ini kerap digunakan untuk membedakan status pasien Corona. Tak jarang, masyarakat sulit membedakannya.

Berdasarkan pedoman Covid-19 yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan, Orang dalam Pemantauan atau ODP adalah mereka yang demam di atas 38 derajat Celsius. Kemudian, disertai gejala gangguan sistem pernafasan seperti pilek, sakit tenggorokan, dan batuk.

Kemudian, di tingkat selanjutnya ada Pasien dalam Pengawasan atau PDP. Mereka yang masuk kategori ini memiliki ciri seseorang dengan Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA), demam di atas 38 derajat Celsius. Lalu punya gejala klinis lain pilek, sakit tenggorokan, sesak nafas, pnumonia atau infeksi paru-paru ringan sampai berat, dan batuk.

Kemudian, ada juga istilah suspect. Nah, menurut Pedoman Covid-19 keluaran Kementerian Kesehatan, istilah suspect saat ini merujuk pada mereka yang masuk kategori PDP.

Kebanyakan istilah malah bikin cape nginget nya ajaa.