Lagi dan lagi kita telah melihat keperkasaan dari Mang Ujang dihadapan Chelshit, dimana MU berhasil mempermalukan Tim tuan rumah asal London tersebut dengan skor 2-0. Pertandingan tersebut berlangsung pada pukul 3 dini hari WIB hingga pukul 5 pagi. Pertandingan ini sudah sangat dinantikan oleh seluruh fans kedua tim ini, karena kedua tim ini sedang bersaing untuk memperebutkan posisi empat (bukan gelar liga inggris ya) agar masuk ke zona liga champion.

Ada alasan mengapa Chelsea saya sebut sebagai keledai, karena mereka pada musim 2019-2020 sudah kalah oleh MU sebanyak 3 kali! Frank Lampar sebagai pelatih seperti tidak pernah belajar dari kesalahannya selama menghadapi MU. Kekalahan pertama Chelsea dialami saat liga inggris baru dimulai dimana chelsea kalah oleh MU dengan skor telak 4-0! Kekalahan kedua dirasakan kembali pada ajang Carabao Cup dimana Chelsea kalah dengan skor 2-1, dan kekalahan terakhir yang dialami kembali dirasakan dini hari td di ajang liga inggris dengan skor 2-0. Hal ini tentunya merupakan aib bagi Chelsea, apalagi ini pertama kalinya dalam sejarah MU berhasil menang kandang-tandangdalam satu musim di liga inggris.

Review secara singkat, pada pertandingan ini sebenarnya Chelsea berhasil tampil dominan dimana mereka berhasil unggul dari segi statistik yaitu Possesions dimana chelsea unggul 60% sedangkan MU hanya 40%, untuk total tembakan Chelsea unggul 17 sedangkan MU hanya 8, dan untuk Tackles pun Chelsea unggul 18 dan MU hanya 12, akan tetapi seluruh dominasi tersebut tidak bisa menjamin kemenangan untuk mereka. MU pada kali ini tidak membutuhkan keunggulan dalam statistik pertandingan, yang mereka butuhkan hanyalah strategi serangan balik dan keburuntungan. Mengapa begitu? sepanjang pertandingan MU sering sering sekali menyulitkan Chelsea dengan serangan baliknya, apalagi Chelsea sejak dilatih Lampard selalu bermain menyeran dan fokus pada penguasaan bola.

Nah untuk Mang Ujan mengapa mereka beruntung? Ya karena mereka 3 kali diuntungkan oleh VAR! Yang pertama adalah pada saat Kurt Zouma berhasil mencetak gol akan tetapi VAR menganggap adanya pelanggaran yang dilakukan oleh Cesar Azpilicueta sehingga gol dianulir, kejadian kedua yaitu ketika Olivier Giroud kembali berhasil mencetak gol akan tetapi VAR menganggap pemain asal prancis tersebut terkena offside padahal hanya ujung sepatunya yang melewati batas offside, dan kejadian ketiga yaitu ketika Harry Maguire mengangkat kaki terlalu tinggi sehingga seperti mengenai alat kejantanan Micty Batshuayi, akan tetapi VAR tidak menganggap itu sebuah pelanggaran.

Melihat seluruh keburuntungan yang didapat maka sangat tidak layak jika MU disebut sebagai setan merah, akan tetapi dapat disebut sebagi Dewi Fortuna, karena 3 kali berturut-turut mendapatkan keberuntungan. Keberuntungan yang didapatkan MU bukan hanya saat bermain melawan Chelsea, MU sangat sering mendapatkan keuntungan dari VAR pada musim 2019-2020, sehingga mereka bisa mendapatkan pinalti, tidak kemasukan gol dan yang lainnya.

Dua contoh MU diuntungkan oleh VAR adalah pertama ketika mereka menghadapi Norwich dimana mereka mendapatkan dua pinalti akan tetapi Martial dan Rashford gagal memaksimalkan peluang, contoh kedua ketika mereka menghadapi Manchester City dimana VAR menganggap Bernardo Silva melanggar Rashford sehingga MU mendapatkan Pinalti dan berhasil membuat MU keluar sebagai pemenang.

Agar tidak terlalu kejam ada baiknya kita memuji kontribusi beberapa pemain MU yaitu Aaron Wan Bissaka yang berhasil menciptakan assits bagi gol sundulan Anthony Martial, proses gol seperti ini jarang terjadi, mengapa? karena kelemahan Wan Bissaka adalah umpan silang biasanya dia cuma bisa menekel dan bertahan, dan Martial pun sangat jarang bisa mencetak gol dengan kepalanya biasanya mantan pemain AS Monaco tersebut hanya dapat mencetak gol ecek-ecek. Pemain yang selanjutnya yang pantas mendapat pujian yaitu Bruno Fernandes, karena dia berhasil menjadi jendral lini tengah bagi MU dan berhasil menciptkan Assits bagi Gol Harry Maguire. Pemain terakhir yang pantas mendapat pujian adalah Eric Bailly, pemain asal Paintai Gading tersebut berhasil menjadi benteng kokoh dilini belakang MU bersama Harry Maguire, bahkan berhasil membuat blok krusial pada tembakan Mateo Kovacic.

Untuk Chelsea tidak ada pujian yang dapat diberikan karena mereka mengalami kekalahan, yang membuat mereka mengalami kekalahan bukan hanya VAR, tetapi tidak bisanya memaksimalkan peluang yang ada dan sentuhan akhir mereka yang buruk, dari total 17 tembakan hanya 1 tembakan yang menjadi on target sama dengan 1 tembakan on target Odhion Ighalo yang baru bermain pada menit 90. Beberapa pemain juga tampil dibawah standar seperti Michy Batshuayi yang tidak bisa memanfaatkan peluang dan Andreas Christensen yang bertanggung jawab atas gol pertama MU.