Semenjak di tetapkan korban pertama pandemi COVID-19 di Indonesia pada 2 Maret 2020, korban pandemi COVID-19 terus bertambah setiap hari nya. Pada 1 april 2020, jumlah korban pandemi COVID-19 berjumlah 1.677 korban yang positif terjangkit virus tersebut, 157 orang dinyatakan meninggal dan 103 orang dinyatakan sembuh.

Selama hampir 1 bulan semenjak dinyatakan Pandemi COVID-19 masuk ke Indonesia, banyak hal dan dampak yang terjadi begitu sangat cepat terhadap Indonesia. Khusus nya di bidang Ekonomi.

Tak perlu menjadi Ekonom jagoan untuk melihat bahwa keadaan Ekonomi Indonesia saat ini sedang tidak baik. Karena dampak ekonomi dari Pandemi COVID-19 ini sangat terlihat jelas. Saham anjlok, pendapatan pariwisata tidak ada, arus transaksi perbankan goyah, dan berbagai industri lain yang pasti nya berdampak.

Selama ini, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan untuk mengurangi persebaran pandemi COVID-19 ini, seperti imbauan Social Distancing & cuci tangan yang bersih yang selalu di sampaikan juru bicara Pemerintah untuk penanganan Corona. Imbauan tersebut lebih seperti kampanye “Gerakan Hidup Sehat” dari pada kebijakan untuk mengurangi persebaran.

Strategi yang sesungguhnya terbukti ampuh untuk mengurangi jumlah persebaran pandemi ini adalah dengan melakukan lowkdown. Kebijakan yang sudah dilakukan di beberapa provinsi di China yang persebaran virus corona sangat cepat, seperti Wuhan.

Walau China masih terus melaporkan pertambahan kasus, jumlahnya turun signifikan dibanding sebelumnya. Ekonomi China perlahan mulai bangkit. Pada Sabtu ini, Wuhan sudah tidak berada dalam kondisi lockdown lagi. Layanan transportasi mulai beroperasi kembali dan wilayah perbatasan mulai dibuka. Namun orang-orang masih menggunakan masker sebagai perlindungan diri.

Virus ini menyebar dari orang ke orang. Jika melihat hal yang terjadi di China, lockdown adalah salah satu strategi yang ampuh untuk mengurangi persebaran virus corona. Walaupun, tentu saja banyak konsekuensi yang akan berdampak.

Pemerintah Indonesia saat ini belum berani mengambil kebijakan lockdown. Karena, kasus persebaran virus corona terbesar di Indonesia terjadi di Jakarta, dimana kita semua tahu bahwa lebih 70% ekonomi Indonesia berpusat di Jakarta dan sekitarnya.

Kebijakan lockdown pasti akan sangat terasa oleh para pekerja “kerah biru” seperti sopir ojek daring, buruh pabrik atau kuli bangunan yang tidak bisa “work from home” seperti para pekerja “kerah putih”. Hal tersebut bukan hanya berdampak kepada ngebul nya dapur para pekerja “kerah biru”, tapi juga pada perputaran ekonomi Indonesia, dimana ada lebih dari 74 juta pekerja “kerah biru” di Indonesia, yang mendominasi jumlah pekerja di Indonesia. Yang pasti jumlah pekerja “kerah biru” yang mendominasi tersebut, akan berpengaruhi secara signifikan terhadap perputaran perekonomian Indonesia jika di lakukan lockdown secara masif.

Pemerintah dihadapkan hal dilema saat ini dalam menghadapi Pandemi COVID-19. Pemerintah sesungguhnya tidak hanya diam, beberapa kebijakan di keluarkan oleh pemerintah seperti keringanan pembiayaan bank/leasing, pembebasan Pph 21 untuk beberapa industri, bantuan langsung tunai, diskon pengguna listrik, dan berbagai kebijakan lain yang sudah di keluarkan oleh pemerintah.

Tapi, dari yang bisa kita lihat, pemerintah saat ini lebih banyak mengeluarkan kebijakan di sisi ekonomi dibandingkan dengan kebijakan konkrit untuk mengurangi ataupun menghentikan persebaran virus corona.

Satu hal yang perlu pemerintah tahu. Seburuk apapun dampak pandemi COVID-19 terhadap ekonomi Indonesia, “Ekonomi masih bisa kita hidupkan kembali, tapi nyawa orang tidak bisa kita hidupkan kembali”.